RSS
Aside
28 Apr

PEMIKIRAN TEOLOGI SYI’AH

 

Oleh :

 

                     Bayu Kresna Mukti                                        ( 112071000008 )

 

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2013

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. LATAR BELAKANG

Syi’ah dari segi bahasa berarti pengikut, kelompok, atau golongan. Dari segi terminologi berarti satu faham dalam islam yang menyakini bahwa khalifah ke-empat dari Khulafahur Rasyidin ( khalifah yang diberi petunjuk ) khalifah Ali bin Abi Thalib r.a dan keturunanya adalah imam-imam atau para pimpinan agama dan umat setelah Nabi Muhamad SAW.

            Pendapat yang paling menonjol tentang munculnya sejarah Syi’ah adalah setelah terbunuhnya khalifah ke-tiga Ustman bin Affan r.a oleh kaum pemberontak Khawari. Golongan-golongan umat terbagi menjadi golongan Jumhur (mayoritas), Khawarij (yang menginginkan agama ekstrim), dan Syi’ah Ali bin Abi Thalib r.a diperkuat setelah ada pertentangan antara Ali bin Abi Thalib r.a dan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Terlepas dari insiden tersebut yang kerap kali tidak harmonis, Syi’ah sebagai sebuah mazhab teologi menarik untuk dibahas. Diskursus mengenai Syi’ah telah banyak dituangkan dalam berbagai kesempatan dan sarana. Tak terkecuali dalam makalah kali ini. Dalam makalah ini kami akan membahas pengertian, sejarah, tokoh, ajaran, sekte Syi’ah. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan gambaran yang utuh, obyektif, dan valid mengenai Syi’ah, yang pada gilirannya dapat memperkaya wawasan kita sebagai seorang muslim, serta terhindar dari aliran yang sesat.


BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.   PENGERTIAN DAN ASAL-USUL KEMUNCULAN SYI’AH

Syi’ah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW. Poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama itu bersumber dari ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau para pengikutnya.[1]

Menurut thabathbai, istilah syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan kepada para pungikut Ali (Syi’ah Ali), pemimpin pertama ahl al-bait pada masa Nabi Muhammad SAW. Para pengikut ali yang disebut Syi’ah itu adalah Abu Dzar al-Ghiffari, Miqad bin Al-Aswad dan Ammar bin Yasir.[2]

Mengenai munculnya Syi’ah dalam sejarah, terdapat perbedaan pendapatdikalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, Syi’ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan Usman bi Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintah Ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Watt, Syi’ah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara ali dan Mu’awiyah yang dikenal dengan Perang Siffin. Dalam peperangan ini, sebagian respon Atas penerimaan ali terhadap arbitraseyang ditawarkan Mu’awiyah, pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali kelak disebut Syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali, kelak disebut Khawarij.

Kalangan Syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti Nabi SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin khathab, dan Usman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thalib yang berhak menggantikan Nabi. Kepemimpinan Ali dalam pandangan Syi’ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW.  sepanjang kenabian Muhammad, Ali merupakan orang yang menunjukkan perjuangan dan pengabdian yang luar biasa besar.Bukti utama tentang sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. [3]

Meskipun mempunyai landasan keimanan yang sama. Syi’ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktri imamah. Da antara sekte-sekte syi’ah itu adalah Itsna asy’ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah, dan Ghullat.

  1. B.   SYI’AH ITSNA ASY’ARIYAH (SYI’AH DUA BELAS/SYI’AH IMAMIYAH)
    1. 1.      Asal-usul Penyebutan Imamiyah dan Syi’ah Itsna Asyariyah

Dinamakan syi’ah Imamiyah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pemimpin religio politik, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya atau kemuliaan akhlaknya, tetapi karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. ide tentang hak Ali dan keturunannya untuk menduduki jabatan khalifah telah ada sejak Nabi wafat, yaitu dalam perbincangan politik di Saqifah Bani Sa’idah.

Syi’ah Itsna Asyariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad seperti yang ditunjukkan nas. Adapun Al-ausiyah (penerima wasiat)setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana yang disepakati. Setelah Husen adalah Ali Zaenal Abidin, kemudian secara berturut-turut; Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far ash-Shadiq,Musa Al-Kahzim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari, dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam yang kedua belas.

Golongan ini terbentuk setelah lahirnya kedua belas imam yaitu kira-kira pada tahun 206 H/878 M.pengikut sakte ini menganggap bahwa imam kedua belas, Muhammad al-Mahdi bersembunyi diruang bawah tanah rumah ayahnya di Samarra dan tidak kembali. Itulah sebabnya, kembalinya imam al-Mahdi ini selalu ditunggu-tunggu pengikut sekte Syi’ah Itsna Asyariyah. Cirikhas kehadirannya adalah sebagai Ratu Adil yang akan turun diakhir zaman . oleh karena inilah, Muhammad Al-Mahdi dijuluki sebagai Imam Mahdi Al-Muntazhar (yang ditunggu).[4]  

  1. 2.       Doktrin-doktrin Syi’ah Itsna Asyariyah

Di dalam sekte Syi’ah Itsna Asyariyah dikenal dengan konsep Usul Ad-din. Konsep ini menjadi akar atau fondasi fragmatisme agama. Konsep usuluddin mempunyai lima akar.

  1. Tauhid

Tuhan adalah Esa baik esensi maupun eksistensi-Nya. Keesaan Tuhan dalah mutlak. Ia bereksistensi dengan sendiri-Nya. Tuhan adalah Qadim. Maksudnya, Tuhan bereksistensi sebelum ada ruang dan waktu. Ruang dan waktu diciptakan oleh Tuhan. Keesaan Tuhan tidak murakkab (tersusun). Tuhan tidak membutuhkan sesuatu . ia berdiri sendiri, tidak dibatasi oleh ciptaan-Nya. Tuhan tidak bisa  dilihat oleh mata biasa.

  1. Keadilan

Tuhan menciptakan kebaikan di alam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah menghiasi ciptaan-Nya dengan ketidak adilan.karena ketidak adilan terhadap yang lain merupakan tanda kebodohan dan ketidak mampuan dan sifat ini jauh dari keabsolutan dan kehendak Tuhan.

Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk mengetahui perkara yang benar atau yang salah melalui perasaan. Manusia dapat menggunakan penglihatan, pendengaran dan alat indra lain untuk melakukan perbuatan baik maupun buruk. Jadi, manusia dapat memanfaatkan potensi berkehendak sebagai anugrah Tuhan untuk mewujudkan dan bertanggungjawab atas perbuatannya.

  1. Nubuwwah

Setiap makhluk telah diberi insting, masih membutuhkan petunjuk, baik petunjuk dari Tuhan maupun manusia. Rasul meruoakan petunjuk hakiki utusan Tuhan yang diutus untuk memberikan acuan dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk di alam semesta. Dalam keyakinan Syi’ah Itsna Asyariyah, tuhan telah mengutus 124.000 rasul untuk memberikan petunjuk kepada manusia.

Syi’ah Itsna Asyariyah percaya mutlak ajaran tauhid dengan kerasulan sejak adam hingga Muhammad dan tidak ada Nabi atau Rasul selain Muhammad. Mereka percaya adanya kiamat. Kemurnian dan keaslliannn Al-Qur’an jauh dari tahrif,  perubahan atau tambahan.   

  1. Ma’ad

Ma’ad adalah hari akhir (kiamat) untuk menghadap pengadilan Tuhan di akhirat. Setiap muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lurus dalam pengadilan Tuhan. Mati adalah periode transit darri kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. 

  1. Imamah

Imamah adalah institusi yang diinagurasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk manusia yang dipilih dari keturunan Ibrahim dan didelegasikan kepada keturunan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir.[5]

  1. C.   SYI’AH SAB’IYAH (SYI’AH TUJUH)
    1. 1.      Asal-usul Penyebutan Syi’ah Sab’iyah

Istilah Syi’ah Sab’iyah dianalogikan dengan syi’ah Itsna Asyariyah. Istilah itu memberikan pengertian bahwa sekte Syi’ah Sab’iyah hanya memiliki tujuh imam. Yaitu Ali, Hasan, Husen, Alli Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq dan Ismailbin Ja’far. Kerena dinisbatkan pada imam ketujuh, Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq, Syi’ah Sab’iyah disebut juga Syi’ah Ismailiyah.

Berbeda dengan Syi’ah Sab’iyah, Syi’ah Itsna Asyariyah membatalkan imam Ismail bin Ja’far sebagai imam ketujuh karena disamping memiliki kebiasaan tak terpuji juga karena dia wafat (143 H/760 M) mendahului ayahnya , Ja’far (w. 765). Sebagai pengganti adalah Musa al-Kadzim, adik Ismail. Syi’ah Sab’iyah menolak pembatalan tersebut, berdasarkan sistem pengangkatan imam dalam Syi’ah dan menganggap Ismail sebagai imam ketujuh dan sepeninggalnya diganti oleh putranya yang tertua, Muhammad bin Ismail.[6]

  1. 2.      Doktrin Imamah dalam Pandangan Syi’ah Sab’iyah

Para pengikut Syi’ah Sab’iyah percaya bahwa islam dibangun oleh tujuh pilar seperti dijelaskan Al-qadhi An-Nu’ma Da’aim Al-Islam. Tujuh pilar tersebut adalah iman, taharah, shalat, zakat, saum, haji, dan jihad.

Berkaitan dengan pilar (rukun) pertama, yaitu iman, Qadhi An-Nu’man (974 M) memerincinya sebagai berikut: iman kepada Tuhan, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, iman kepada surga, iman kepada neraka, iman kepada hari kebangkitan, iman kepada hari pengadilan, iman kepada para Nabi dan Rasul, iman kepada imam, percaya, mengetahui, dan membenarkan imam zaman.

Syarat-syarat seorang imam dalam pandangan Syi’ah sab’iyah adalah sebagai berikut:

  1.  Imam harus merasal dari keturunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah yang kemudian dikenal dengan ahlul bait
  2. Keimaman harus dari keturunan Alimelalui pernikahannya dengan seorang wanita dari Bani Hanifah dan mempunyai anak yang bernama Muhammad Al-Hanifah.
  3. Imam harus berdasarkan petunjuk atau nas.
  4. Keimanan jatuh pada anak tertua. Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam memperoleh keimanan dengan ayahnya yang menjadi imam menunjuk anaknya yang paling tua.
  5. Imam harus maksum. Syi’ah Sab’iyah menggariskan bahwa seorang imam harus terjaga dari salah satu dosa. Bahkan lebih dari itu, syi’ah Sab’iyah berpendapat bahwa sungguhpun imam berbuat salah, perbuatannya itu tidak sah.
  6. Imam harus dijabat oleh seorang yang paling baik. Perbuatan dan ucapan imam tidak boleh bertentangan dengan Syari’at. Sifat dan kekuasaan imam hampir sama dengan Nabi. Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa Nabi mendapatkan wahyu, sedangkan imam tidak mendapatkannya.[7]

Di samping syarat-syarat diatas, syi’ah Sab’iyah berpendapat bahwa seorang imam harus mempunyai pengetahuan (ilmu) dan juga harus mempunyai pengetahuan walayah. Pengetahuan disini adalah ilmu lahir maupun ilmu batin. Dengan ilmu tersebut, seorang imam mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui orang biasa. Apa yang salah dalam pandangan manusia biasa, tidak mesti salah dalam pandangan imam.

  1. D.   Syi’ah Zaidiyah
  2. 1.      Asal-usul Penanaman Zaidiyah

Disebut Zaidiyah karena mengetahui Zaid bin ali sebagai imam kelima, putra imam keempat, Ali Zainal Abidin. Kelompok ini berbeda dengan Syi’ah lain yang mengakui Muhammad Al-Baqir, putra Zainal Abidin yang lain, sebagai imam kelima. Dari mana Zaid bin Ali inilah, nama Zaidin diambil. Syi’ah Zaidiyah merupakan Syi’ah yang moderat.[8]

  1. 2.       Doktrin Imamah Menurut Syi’ah Zaidiyah

Kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi SAW telah ditentukan nama dan orangnya oleh Nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja. Menurut Zaidiyah, seorang imam paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, ia merupakan keturunan ahl al-bait, baik melalui garis Hasan maupun Husein. Hal ini mengimplikasikan penolakan mereka atas sistem pewarisan dan nas kepemimpinan. Kedua, memiliki kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya mempertahankan diri atau menyerang. Bagi mereka, pemimpin yang menegakkan kebenaran dan keadilan adalah Mahdi. Ketiga, memiliki kecenderungan intelektualisme yang dapat dibuktikan melalui ide dan karya dalam bidang keagamaan. Mereka menolak kemaksuman imam, bahkan mengembangkan doktrin imamat al-mafdul. Artinya, seseorang dapat dipilih menjadi imam meskipun ia mafdul  (bukan yang terbaik) dan pada saat yang sama ada yang afdal.

Syi’ah Zaidiyah memang mencita-citakan keimanan aktif, bukan keimanan pasif, seperti Mahdi yang gaib. Menurut mereka, imam bukan saja memiliki kekuatan rohani yang diperlukan bagi seorang pemimpin keagamaan, tetapi juga bersedia melakukan perlawanan demi cita-cita suci sehingga dihormati umatnya. Imam bagi mereka adalah pemimpin dan guru bagi kaum muslim, aktif di tengah kehidupan, dan berjuang terang terangan demi cita-cita. [9]

  1. 3.      Doktrin-doktrin Syi’ah Zaidiyah Lainnya

Dalam pandangan mereka, memilih seorang imam yang ditetapkan oleh Zaidiyah dan tetap dibaaiat oleh mereka, keimanannya menjadi sah dan rakyat wajib berbaiat kepadanya. Selain itu mereka juga tidak mengafirkan seorang pun sahabat. Banyak orang keluar dari syi’ah Zaidiyah dan berkurangnya dukungan terhadap Zaid ketika ia berperang melawan pasukan Hisyam bin Abdul Malik karena salah satu doktrin Syi’ah yang cukup mendasar adalah menolah kekhalifahan abu Bakar dan Umar dan mendukung mereka merampas hak kekhalifahan dari tangan Ali.

Penganut Syi’ah Zaidiyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka jika dia belum bertobat dengan pertobatan yang sesungguhnya. Abu Zahrah maupun Moojan Momen mengatakan bahwa dalam teologi Syi’ah Zaidiyah hampir sepenuhnya mengikuti Mu’tazilah. Selain itu, secara etis mereka boleh dikatakan anti-Murji’ah. Organisasi tarekat dilarang dalam pemerintah Zaidiyah.

Zaidiyah menolak nikah Mut’ah (temporer). Nikah Mut’ah merupakan salah satu jenis pernikahan yang didapuskan pada masa Nabi SAW. pada perkembangannya , jenis pernikahan ini dihapuskan oleh khalifah Umar bin Khatob. Penghapusan ini jelas ditolah oleh Syi’ah selain Zaidiyah. Oleh karena itu hingga sekarang kecuali kalangan Zaidiyah kaum Syi’ah tetap mempraktekkan nikah mut’ah. Dalam bidang ibadah, Zaidiyah tetap cenderung menunjukkan simbol dan amalan Syi’ah pada umumnya. Dala adzan mereka memberi selingan ungkapan hayya ‘ala khoir al-amal, takbir sebanyak lima kali shalat jenazah, menolak sahnya mengusap kaus kaki, menolak imam shalat yang tidak saleh dan menolak binatang sembelihan bukan muslim.[10]

  1. E.   SYI’AH GHULAT
  2. 1.      Asal-usul Penamaan Syi’ah Ghulat

Istilah Ghulat berasal dari kata ghala-yaghlu-ghuluw artinya bertambah dan baik. Ghalabi as-din artinya memperkuat dan menjadi ekstrim sehingga melampaui batas. Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syi’ah ekstrim  adalah kelompok yang menempatkan Ali pada derajat ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada derajar kenabian, bahkan lebih tinggi dari pada Muhammad. Selain itu, mereka juga mengembangkan doktrin-doktrin ekstrim lainnya, seperti tanasukh, hulul, tasbih, dan ibaha.[11]

  1. 2.      Doktrin-doktrin Syi’ah Ghulat

Menurut Syahrastani, ada empat doktrin yang membuat mereka ekstrim, yaitu tanasukh, bada’, raj’ah, dan tasbih. Moojan Momen menambahkannya dengan hulul dan ghayba. Tanasukh adalah keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil jazad yang lain. Bada’adalah meyakini bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmu-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memerintahkan yang sebaliknya.raja’ ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayai bahwa imam Mahdi Al-Muntazhar akan datang ke bumi.

Tasbih artinya menyerupakan, mempersamakan. Syi’ah Ghulat menyerupakan salah seorang imam mereka dengan Tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan makhluknya. Hulul artinya Tuhan berada pada setiap tempat, berbicara dengan semua bahasa, dan ada pada setiap individu manusia. Ghaybah artinya menghilangnya imam Mahdi. Imam Mahdi itu ada dalam negeri ini dan tidak dapat dilihat oleh mata biasa.[12]

 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

     Ada lima pemukiran teologis Syi’ah seputar kekhalifahan:

  1. a.      Imamah merupakan salah satu rukun iman. Oleh karena itu imamah didak termasuk diantara kepentinga-kepentingan umum yang pemilihannya dapat diserahkan kepada umat. Adalah kewajiban Nabi untuk menetapkan imam sebagai pengganti dirinya.
  2. b.      Seorang imam adalah orang yang ma’shum, yakni orang-orang suci yang terpelihara dari segala perbuatan dosa dan kesalahan, yang besar maupun kecil. Semua yang bersumber dari imam, abik berupa ucapan maupun tindakannya adalah merupakan nash. Hadits dalam pandangan Syi’ah adalah sabda Nabi dan sabda para imam yang suci.
  3. c.       Ali bin Abi bin Abi Thalibadalah imam pertama yang ditetapkan oleh Nabi SAW dengan nash yang jelas.
  4. d.      Setiap imam ma’sum menetapkan imam ma’shum berikutnya, sebagai pengganti dirinya, hingga Imam terakhir. Mayoritas Syi’ah mengimani 12 imam yang ma’shum, mulai imam pertama, Ali bin Abi Thalib hingga imam ke 12 Muhammad Al-Mahdi.
  5. e.       Seluruh madzhab Syi’ah sepakat bahwa imamah merupakan hak milik keluarga Nabi

melalui turunannya Ali bin Abi Thalib

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Rozak Abdul dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka setia, Bandung, 2006
  2. http://nuryandi-cakrawalailmupengetahuan.blogspot.com/2012/06/aliran-kalam-syiah.html
  3. http://tarbiyaha11uinujpr.blogspot.com/2012/06/makalah-ilmu-kalam-tentang-syiah-t-2a.html

[1] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka setia, Bandung, 2006, hal. 89

[2] Ibid, hal 89                                  

[4] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka setia, Bandung, 2006, hal. 93-94

[6] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka setia, Bandung, 2006, hal. 96

[7] Ibid, hal. 97-98

[8] Ibid, hal.101

[9] Ibid, hal. 101-103

[10] Ibid, hal. 103-105

[12] Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka setia, Bandung, 2006, hal. 106-107

PEMIKIRAN TEOLOGI SYI’AH Oleh :                      Bayu Kresna Mukti                

 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: